THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Isnin, 10 Januari 2011

BILA NAFSU BERBICARA


Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, minta tolong kepada-Nya, dan minta ampun kepada-Nya. Kita mohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan nafsu dan kejelekan perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada yang dapat menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tiada yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

Insyaallah, entri kali ini lebih mendasari kepada permasalahan ummah, mungkin hayyah para pembaca, mungkin juga berlaku dalam hayyah pena sendiri. Pernah satu ketika, pena berkenalan dengan seorang sahabat, pada awalnya menerima didikan agama yang cukup dari ibu bapa namun ketika usia meningkat dewasa lantaran hidup dalam arus permodenan yang semakin mengagungkan budaya barat dari budaya islami, hidupnya mula berubah. Bila sahaja dilontarkan nasihat bertalu-talu, inilah jawapan2 indah yang di lafazkan :

“ takpa, esok masih ada untuk bertaubat...”

Tidak kurang hebatnya dengan seorang sahabat yang bila di ajak solat walhal azan sudah pun kedengaran, lebih meng’aula’kan untuk menonton drama kesukaan dari mendahulukan solat. Apa katanya ?

“takpa, awal lagi nak solat. Waktu panjang lagi. Drama ni esok2 tak boleh tengok dah...”

Bagi individu yang bergelar penuntut, pelajar dan seangkatan dengannya lagi, homework atau pun assignment yang diberikan di biarkan tanpa di usik, sampai masa sehari lagi nak hantar, barulah nak mem’buzy’kan diri untuk menyelesaikannya. Sibuk dengan hal2 luar, tapi hal2 dalam dibiarkan. Tak kurang hebatnya bila dua tiga minggu lagi nak menghadapi peperiksaan, ketika sahabat2 lain buzy dengan study, kita duk buzy dengan perkara2 yang tidak berkaitan pun dengan permasalahan umat islam. Apa kata kita ?

“ ala rileks la.. takpa exam lambat lagi...”

Budaya “Tak pa” telah lama menguasai umat ini, menyebabkan kita sering ketinggalan dan dianggap mundur dari segenap bidang sama ada dari sudut ukhrawi mahupun duniawi. Kenapa budaya ini meresap dalam relung hati kita hingga kita menjadi umat yang hina walaupun hakikatnya kita sepatutnya mulia dengan keIslaman ini.

Kenapa budaya ini cukup sebati dalam diri masyarakat kita sedangkan Islam cukup membenci budaya yang melengah-lengahkan amalan kebaikan dan membiasakan diri dengan amalan kejelekan seperti di atas. Kerana ketika nafsu kita berbicara, iman menjadi bisu tanpa bicara lalu tubuh mula melakukan aksi yang bakal membinasakan kehidupan sang manusia yang memakai baju Islam dan Muslim itu.

Ketika nafsu kita berbicara, ibadah menjadi suatu yang diambil mudah seperti mudahnya kita menanggalkan pakaian dari tubuh lantas solat hanya dilakukan sekadar untuk melengkapkan diri dengan title seorang Muslim dan bukan sebagai suatu keperluan dalam kehidupan seorang Muslim yang bakal menjauhkan diri dari terjebak dengan perbuatan keji dan mungkar, seperti mana Firman Allah dalam kitab suci al-kareem : “….Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.”[Al Ankabuut 29:45]

Ketika nafsu kita berbicara, solat hujung lima waktu itu tidak mampu menurunkan pandangan melihat yang haram hingga menjadi santapan harian yang cukup enak apatah lagi hidangan itu terlupa untuk ditutup dengan ‘tudung saji’ namun sekadar ditutup dengan sehelai kain ‘sapu tangan lutsinar’ hingga mampu menggoncangkan dada untuk berdenyut melebihi paras normal seorang manusia dan mula terpaut dihati hingga berlakulah pertemuan dan berbalas hadiah serta menyambut tarikh khurafat 14 Februari dan nafsu kita juga semakin kuat berbicara……. “Pandang jangan tak pandang….”

Ketika nafsu kita berbicara, bukan sekadar nilaian ukhrawi semakin kurang bahkan nilaian dunia juga diabaikan hingga pelajaran sudah menjadi suatu yang membebankan, menjadikan diri malas untuk menelaah pengajian, malas mengikuti pengajian, malas memahami makna sebuah pendidikan. Justeru itu, lahirlah generasi yang mempunyai tahap akademik yang baik tapi belum mampu mendapatkan pekerjaan hingga pelbagai bantuan harus disalurkan namun masih ramai yang menganggur kerana kualiti pendidikan yang cukup lemah dan siapakah yang patut dipersalahkan sistem pendidikan atau sikap semasa berada dalam sistem tersebut.

Dan ketika nafsu kita semakin lantang bersuara…”Rilek lah brother/sister, exam nanti kita pakat tiru ramai-ramai….” Ketika nafsu kita berbicara, hatta setelah mendapat pekerjaan yang dapat menampung kehidupan dengan gaji yang boleh dikatakan “ok”lah, maka segala tugas dilakukan secara sambil lewa, datang kerja pada awal waktu tapi mula kerja pada hujung waktu, balik kerja pada waktu yang ditentukan namun cabut awal dari waktu sebenar dibantu rakan sekerja yang ‘prihatin’ dan ‘amanah’ sebagai duta untuk ‘punch card’kan.

Masalah birokrasi mula diselitkan dengan sebuah ‘income tambahan’ jika ingin memper-cepatkan urusan lalu mula menggeletar saat Badan Pencegah Rasuah menyiasat kerana pasti tidak akan dipilih sebagai calon nantinya….maka nafsu kita semakin ghairah bersuara…. “Keje biasa-biasa je, janji duit masuk …”

Ketika nafsu kita berbicara, masa terus berlalu dan berlalu walhal kita masih lagi bergelimang dengan dosa dan noda, budaya ‘Tak pa’ masih menjadi i’tikad yang kuat dalam diri dan kehidupan hinggalah tiba saat rambut mula menjadi seindah warna kapas, kulit mula menunjukkan kekurangan otot-ototnya dan badan semakin ingin menyembah bumi lantas barulah tersedar dari lamunannya dan terkenang zaman ‘tak pa’nya dulu, lalu kaki mula tergerak untuk menaiki tangga surau dan masjid hingga berbondong-bondong warga emas mula untuk mengikuti pengajian dan memohon taubat atas kealpaaannya selama hidupnya yang sudah tiba ke penghujungnya.

AlhamduliLLAH jika masih sempat bertaubat dan kembali menyesal atas dosa-dosa lalu namun perubahan yang kita dambakan pastinya sudah samar-samar akibat lambatnya kita menyedari kesilapan dan kelalaian sendiri. Tetapi bagi mereka yang masih belum tiba waktu tuanya pasti membiarkan nafsu membesarkan suaranya dalam relung hati masing masing…….. “Tak pa, life start at forty, still have time… yang penting kita enjoy!!!!!

Ketika nafsu kita berbicara, kita sering tewas dan terpaksa mengalah dengannya, alangkah ruginya andai kita tidak mampu mendidik nafsu ini ke arah yang diredhai-Nya, alangkah ruginya masa-masa kita jika nafsu ini masih dibiarkan untuk berbicara sekehendaknya hingga mampu menyesatkan kita dari jalan kebenaran-Nya, alangkah ruginya kita bila merasa seronok dengan perbuatan yang hanya memuaskan nafsu diri yang pastinya tidak pernah puas selama-lamanya hingga kematian menjemput kita.

Adakah nafsu kita masih berbicara?? ketika nafsu kita masih berbicara, pastikan iman kita juga berbicara bahkan dengan suara yang dapat menundukkan nafsu itu dari menguasai kita, maka menjadi kewajipan untuk menguatkan iman kita dengan ‘akidah yang bersih, ‘ibadah yang dapat dirasakan kemanisannya dan akhlak yang indah dari segi dalaman dan luaran sebagai tanda ‘ibadah kita memberi kesan bukan sahaja kepada diri bahkan kepada masyarakat sekeliling. Dan ketika nafsu itu masih lagi berbicara tapi bicaranya bukan lagi ke arah kejelekan bahkan ke arah kebaikan.

Siapakah pemilik nafsu yang diberi rahmat ini??? Berdoalah agar kita salah seorang daripadanya wahai teman-temanku. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan kita yang Maha Esa.

“Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” [ Yusuf 12:53]

Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Ash ra berkata; RasuluLLAH saw bersabda, “ Tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga hawa nafsunya mengikuti ajaran-ajaran yang aku bawa.”
[ Hadith 41 –dr Hadith Arbain An Nawawiyah]

“….Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.” [Al An’aam 6:119]

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” [Al Mu’minuun 23:71]

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…” [Al Maidah 5:48]

” …Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran….” [An Nisa’ 4:135]

Berwaspadalah apabila nafsu kita berbicara... moga2 nafsu kita adalah nafsu yang mendapat rahmat-Nya...
SEKIAN, WASSALAM

BERKAT KAH ILMU YANG KITA TUNTUT...????



Anda akan mendapati sebahagian manusia telah dikurniakan oleh Allah ilmu yang luas, namun masih kelihatan seperti orang yg ‘buta huruf’, tidak nampak pengaruh ilmu itu pada dirinya, tidak juga didalam ibadah2nya. tidak didalam akhlaknya, tidak didalam perilakunya, dan tidak pula didalam pergaulannya di antara sesama manusia. Terkadang ia menyalah gunakan ilmu tersebut untuk lebih membanggakan diri dihadapan hamba2 Allah, merasa tinggi dan merendahkan mereka. Dia tidak menyedari bahawasanya yang telah mengurniakan ilmu kepadanya adalah Allah ‘azzawajalla, dan sungguh jika Allah berkehendak, nescahaya akan menjadikannnya seperti layaknya orang yang jahil.

Kita pasti akan dapat perhatikan, atau pun tidak merasakannya, bahawa Allah telah mengurniakan kepada kita ilmu, akan tetapi gholiban manusia tidak dapat mengambil manfaat daripada ilmunya, baik melalui pengajaran, pengarahan atau nasihat, dan tidak juga melalui tulisan. Bahkan ilmu itu hanya terbatas untuk dirinya sendiri. Allah tidak memberkahinya didalam ilmu itu, dan tidak diragukan lagi, ini bererti hilangnya kurnia yang besar. Padahal ilmu itu merupakan pemberian Allah subhanahuwata’ala yg paling membawa berkat bagi seorang hamba, kerna ilmu itu jika di ajarkan kepada orang lain dan di sebarkan di tengah masyarakat, insyaallah akan mendapatkan pahala atas itu semua dari beberapa sisi, iaitu:

1) Bahawa dengan menyebarkan ilmu yang kita miliki bererti kita telah menyebarkan agama Allah ‘azzawajalla, sehingga kita termasuk dari para mujahidin, insyaallah. Seorang Muslim yangg berjihad di jalan Allah, dia telah menakluk negeri demi negeri hingga tersebarlah agama Allah di wilayah itu. Adapun kita ini adalah pembuka hati2 yang tertutup melalui ilmu tersebut, sehingga syari’at Allah ‘azzawajalla tersebar luas.

2) Di antara keberkatan dari penyebaran ilmu dan pengajarannya adalah bahawa dalam penyebaran ilmu itu pasti tersirat penjagaan terhadap syaria’at Allah dan perlindungan terhadapnya. Tanpa ditunjang dengan ilmu, maka syari’atnya ini tidak akan terjaga, syari’at ini terjaga dengan perantaraan mereka yang Allah kurniakan petunjuk berupa ilmu yang bermanfat. Apabila Anda telah menyebarkan ilmu itu, dan masyarakatpun mudah mengambil manfaat darinya, maka penjagaan terhadap syria’at Allah dan pemeliharaannya akan terlaksana (dengan baik).

3) Dengan menyebarkan ilmu bererti kita sudah pun berbuat baik kepada orang yang telah kita ajari (ilmu) tersebut padanya. Oleh kerana kita telah menjadikannya mengerti terhadap agama. Apabila orang itu beribadat kepada Allah dengan bashirah (ilmu yg benar), maka insyaallah kita akan turut mendapat pahala seperti pahala yang dia dapat. Kerana kitalah yang telah menunjukkannya kepada kebaikkan itu, sedangkan orang yang menunjukkan kepada sesuatu kebaikan, maka ia seperti pelakunya. Jadi ilmu yg disebarluaskan merupakan kebaikkan dan keberkatan bagi penyebar dan penerimanya.

4) Sesungguhnya dengan menyebarkan ilmu dan mengajarkannya, seseorang akan bertambah ilmunya. Ilmu seseorang akan bertambah dengan diajarkan org lain, sebab ia akan mengingat kembali apa yang telah dihafalnya dan ia merupakan pembuka bagi ilmu yang belum dihafal. Betapa banyak manfaat yang diperoleh seorang ‘alim(guru) dari para muridnya, mereka terkadang datang mengemukakan makna2 yang tidak pernah terlintas di dalam benaknya, sehingga ia dapat mengambil manfaat daripada muridnya. Padahal dia adalah pengajar mereka dan ini merupakan suatu kenyataan.

Oleh kerana itu, selayaknya bagi para mu’allim bila ia mengambil manfaat dari talamiznya, dan muridnya menemukan ilmu, hendaklah ia selalu memotivasikan murid tersebut, dan mengucapkan ribuan terima kasih kepadanya. Jangan seperti anggapan sebahagian orang bahawawsanya jika seorang murid telah menemukan dan menjelaskan ilmu yang belum diketahuinya, seorang guru merasa tersinggung sambil mengatakan:” Ini anak hingusan yang mengajar orang dewasa,” sehingga dia(murid) tersinggung dan berusaha menghindarkan dirinya unutuk berdiskusi dengannya. Dia khuatir anak itu akan menyebabkannya ke dalam masalah yg belum diketahui. Ini merupakan sikap yang bersumberkan dari keterbatasan ilmu dan akalnya.

Sebab apabila Allah telah menganugerahkan kepada kita, insyaallah talamiz2 yang mengingatkan persoalan yang kita lupa, dan mereka pun membukakan untuk kita ilmu yang belum kita ketahui, maka hal itu merupakan sebahagian daripada nikmat Allah. Dan inilah buah tangan daripada penyebaran ilmu yang akan terus bertambah jika kita mengajarkannya dan menyampaikannya. Sebagaimana ungkapan seorang yg membandingkan antara ilmu dan harta, ia berkata mengenai ilmu:

(ilmu) akan bertambah denagn banyak mengajarkannya,dan akan berkurang jika engkau menahannya lalu mengekangnya.Jika engkau mengekang ilmu itu, maka ia tidak akan berkembang. Dan jika ia engkau tahan, maka ia akan berkurang, ya’ni engkau bakal melupakannya. Akan tetapi, jika engkau menyebarkannya ia senantiasa akan bertambah.

Sepatutnya bagi seseorang dalam menyebarkan ilmu agar menerapkan sikap hikmah (bijaksana) dalam mengajar, dengan menyampaikan kepada talamiznya masalah2 yang sesuai dengan kadar kemampuan akal fikiran dan tidak membebani mereka dengan permasalahan yang sekiranya memberatkan. Bahkan mendidik mereka dengan ilmu setahap demi setahap.

Oleh kerana itu, ada sebahagian orang yang memberikan definisi tentang seorang ‘alim yg rabbani (memiliki jiwa pendidik), iaitu seorang ‘alim yang mengajarkan kepada manusia dimulai dari ilmu2 yang ringan sebelum menginjak ke yang lebih sulit dan kompleks. Kita semua mengetahui bahawa suatu bangunan tidak akan berdiri teguh begitu sahaja dengan megahnya di atas bumi, tetapi bangunan itu dibangun oleh ahlinya secara bertahap hingga bangunan tersebut sempurna. Begitu halnya dengan seorang mu’allim, selayaknya ia memperhatikan kemampuan berfikir para talamiznya sehingga dia hanya menyampaikan kepada mereka ilmu yang mampu mereka terima dengan akal mereka. Oleh kerana itu manusia diperintahkan supaya berbicara denagn org lain sesuai dengan pemahaman lawan bicaranya.

Ibnu Mas’ud radiallahhu’anh berkata” “Sungguh tidaklah kamu berbicara dengan sekelompok masyarakat dengan sesuatu pembahasan yang tidak mampu mereka cerna, kecuali hal itu akan menjadi fitnah bagi sebahagian mereka (Kesalahfahaman).”Demikian pula, hendaklah seorang pengajar mencurahkan perhatian terhadap pokok2 dan kaedah2 agamanya (ilmu ushul dan alat), sebab keduanya itu merupakan fondasi sesuatu ilmu.
Para ulama mengatakan:”Barang siapa yang tidak mendapatkan pokok2 sesuatu ilmu (ilmu usul), maka ia akan jauh dari keberhasilan, ya’ni tidak akan sampai pada tujuan akhirnya. Maka seorang pendidik dianjurkan supaya mengajarkan kepada talamiznya pokok2 dan kaedah2 ilmu yang darinya akan muncul masalah2 yang bersifat furu’iyyah (cabang). Sebab org yg mempelajari ilmu dari permasalahan yang bersifat cabang, nescaya dia tidak dapat memberikan jawapan yang benar bila dihadapkan kepada sesuatu permasalahan yang pelik untuk diketahui hukumnya, kerana tidak memiliki dasar.

oleh itu, buat teman2 seperjuangan, insyaallah yang meneruskan perjuangan sebagai seorang mu’allim atau mu’allimah, pergunakan ‘ilmu yang ada di dada dengan sebaiknya, jangan ‘ilmu itu hanya ada dalam buku, seperti pepatah ‘arab : “ al-‘ilmu laisa fil kitab wa lakin fi as-sudur ”. kewajipan menyampaikan perkara2 yang baik adalah tanggungjawab kita bersama.

Wallahu’alam...

BICARA SI PENDOSA YANG TERHINA....


Dengan NamaMU ya Robb..
dengan segala KekuasaanMu,
meliputi seluruh Langit dan bumi...
Sepi.. sepi seorang hamba..
Menunggu jawapan yang pasti..

Apakah harus bagiku untuk meneruskan ...
Langkahan kaki yang lemah ini..
Atau .. hentikan sahaja ...
Bicaralah denganku...
Ku mohon ya Ilahi...
Bicaralah...
Dengan hamba yang lemah ini...
Kerna aku...
Pendosa yang terhina..

Gusarnya di hati.. entah..
Terkadang .. hati seakan ingin meluahkan..
Namun.. rasa malu pada pandangan insani...
Menjadi penghalang..
Apa harus dipendam???
Sehingga menjadi barah...
Ataukah....
Luahkan.. namun pada siapa??
Pada siapa??? .. ku sedar..
Hanya padaMu ya Ilahi...
Mengapa harus meletakkan harapan pada ciptaanMu..
Tapi tidak padaMu???
Kerna aku si pendosa yang terhina...

Dengarlah bicaraku...
Terkadang ingin sahaja terus di simpan...
Namun.. tidakkah itu boleh memberi
Manfaat bagi hambaMu yang lain???
Agar tidak terus alpa dan lalai..
Dengan permainan duniawi..
Dengarlah bicaraku ya Ilahi..
Hanya kerna aku si pendosa yang terhina....


Bukan sekali.. juga bukan dua kali..
Kata-kata manusia..
Menusuk qolb ku yang sememangnya lemah...
Walaupun ada yang berkata..
Usah di pedulikan kata-kata mereka..
Dengarlah.. jangan di simpan...
Jadikan ia sebagai ‘ibroh...
Namun sampai bila harus bersabar???

Bicaralah denganku ya Muhaimin..
Kerna aku pendosa yang terhina...
Sehinggalah.. satu saat... satu ketika
Aku si pendosa yang terhina...
Sedar... ya.. aku sedar...
Sungguh.. ISLAM itu tidaklah membebankan...
Manualnya untuk setiap jiwa-jiwa yang hidup..
Punya ‘akal untuk terus memikirkan kebesaran sang Pencipta...
Terus mentarbiyah jiwa-jiwa itu..
Menuju keikhlasan....

Namun... aku si pendosa yang terhina ini...
Mengerti...
Hati manusia... siapa yang mampu menekanya??
Siapa yang mampu mengerti....
Hitam pekatnya hati tersebut???
Biarpun terzahir putih sucinya..
Rahsianya..menjadi dakapan Maha Mengetahui....

Ya Ilahi....
Bicaralah dengan ku....
Bukan semua hati ini ingin meluah..
Cuma sebuah harapan mampu memberikan pengajaran...
Dalam menghidupkan syariat Maha Berkuasa..
Apalah ertinya sebuah gerakan tanpa ada harapan di sisinya...
Kosongnya jiwa tanpa ada suara di sisinya...

Melakar..mencoret.. jua terus mencatat..
Memahami tinta Allah SWT..
Dari bentangan alamNya..
Menari tinta meluahkan rasa..
Tiada tujuan lain...
Melainkan untuk meraih jiwa tangga redhaNya..

Bicaralah denganku ya Allah...
Segala-galanya di persembahkan untukMu..
Dengan sebuah harapan dan tujuan yang pasti...
MardhotILLAH..
Mendambakan keikhlasan...
Agar ianya mampu memeluk erat jiwa seorang hamba...
Akulah hamba itu...
Si pendosa yang terhina....

Jumaat, 7 Januari 2011

BETAPA....


Betapa besarnya nilai wang kertas bernilai RM1 apabila dibawa ke masjid
untuk disedekahkan, tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!

Betapa lamanya melayani Allah S.W.T selama lima belas minit, namun
betapa singkatnya kalau kita melihat filem.

Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan), namun
betapa mudahnya kalau mengata atau mengumpat tanpa harus berfikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya apabila pertandingan bola dipanjangkan waktunya, namun kita mengeluh ketika khutbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.

Betapa sulitnya untuk membaca satu helai Al – Quran, tetapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel atau majalah yang laris.

Betapa beria-ia orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konsert, namun lebih senang berada di saf paling belakang sewaktu menunaikan solat ketika di Masjid.

Betapa mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu berahi semata – mata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.

Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk solat 5 waktu sehari semalam, namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.

Betapa sulitnya untuk mempelajari erti yang terkandung di dalam Al – Quran, namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.


Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh surat khabar, namun betapa kita meragui apa yang dikatakan oleh Kitab Suci Al – Quran.

Betapa takutnya kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat menghadapnya, namun betapa kita berani dan lamanya untuk menghadap – Nya saat kumandang azan bergema.

PERCUMA TAPI BERHARGA


Wahai manusia fikirlah sebentar
Tenangkan minda tenangkan diri
Cuba kita renungi ini
Percuma dari ALLAH tetapi berharga


Udara
Keperluan semua Makhluk di bumi
Diberi percuma kepada mereka
Tetapi sedikit sahaja yang bersyukur
Kepada ALLAH

Hujan
Juga amat berharga
Diberi percuma kepada makhluk
Menumbuhkan tumbuhan
Keperluan pelbagai haiwan
Keperluan manusia
Banyak keperluannya

Tanah juga diberi percuma
Banyak kegunaan kepada manusia
Bercucuk tanam pelbagai tanaman
Untuk dijadikan makan manusia
Tanah yang di beri percuma oleh ALLAH
Mengeluarkan barang berharga
Emas
Perak
Intan berlian
Minyak
ALLAH tidak minta balas
Cuma taat dan taqwa
Itu sahaja yang dipinta

Tidak terusik kalau derhaka
Yang rugi cuma manusia

Matahari dan bulan adalah pasangan
Tetapi tidak pernah bertemu
Diberi percuma oleh ILAHI
Untuk keperluan manusia
Untuk keperluan tumbuhan
Untuk keperluan haiwan

Tumbuhan bertasbih dan bersyukur
Haiwan berytasbih dan bersyukur
Manusia sedikit sahaja yang bersyukur
Hairan kan???
Yang ada akal tak pakai
Yang tak berakal ada kelebihan

Wahai manusia fikirlah sebentar
Percuma dari ALLAH tapi berharga