THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Ahad, 21 Ogos 2011

RINDU PADAMU YA RASULULLAH


Di keheningan malam ini, entah keberapa kali aku terjaga dari lena yang seketika. Entah mengapa hatiku dipagut kehibaan. Kehibaan yang sangat mencengkam sanubari. Jauh di sudut hatiku, berbaur kesedihan yang teramat. Tidak dapat diungkap perasaan ini dengan kata-kata. Walau seindah mana kata-kata masih tetap tak dapat digambarkan apa yang aku rasakan. Diriku sebenarnya merinduimu ya Rasulullah. Ya, teramat merinduimu.

Setiap detik ku teringatkan dirimu. Mendengar alunan selawat oleh kumpulan Hijjaz yang menjadi santapan halwa olehku di Laptop, membuatkan hati bertambah di pagut rindu padamu. Setiap kali mata singgah pada Surah Muhammad, mengalir air mataku.

Lagi bertambah hiba apabila terkenangkan saat dirimu berhadapan dengan sakaratulmaut, terngiang-ngiang katamu, "Ummati... ummati... ummati..." Ya Rasulullah, andai dirimu masih hidup, pasti dirimu kecewa, bersedih dengan keadaan umatmu zaman ini. Setiap kali teringatkan dirimu pasti deraian air mata yang menemani malamku kerana mengenangkan perjuanganmu Ya Rasulullah.

Ya Rasulullah, aku tidak tahu di mana harus ku salurkan rindu ini selain mengadu pada Sang Pencipta Cinta. Lantas, ku titipkan kalam bisu ini khas buatmu, supaya aku bisa berkongsi dengan mereka di luar sana, menyatakan betapa diriku ini ingin berjumpa denganmu. Tidak melampau untuk ku katakan bahawa aku punya mimpi.

Ya, aku menyimpan sebuah harapan besar ya Rasulullah.
Kelak, ketika di Yaumul akhir.
Engkau ibaratnya adalah seorang idola, superstar yang berdiri di atas kemegahan sebuah panggung. Sedangkan aku, dengan segala kekerdilanku berada di antara deretan para penonton dan aku akan memanggil engkau jauh di sudut sana, di antara jutaan lautan manusia.
Informasi iluvislam.com

Aku akan berteriak: Ya Rasulullah, Ya Rasulullah!!!
Aku berharap. Aku sungguh berharap.
Engkau akan menoleh ke arahku, dan berkata "Itu umatku!" "Itu umatku!"
Mungkin tidak tergambar betapa gembiranya perasaan ku pada waktu itu, tatkala melihat wajahmu. Sungguh aku ingin ya Rasulullah.
Aku ingin menjadi sebahagian dari barisan panjang umat yang mendapatkan syafaatmu.

Aku ingin menjadi sebahagian dari umat yang tersenyum berdiri di belakangmu,
Namun, adakah aku layak ya Rasulullah?
Layakkah aku melihat wajahmu?
Atau pantaskah aku melihat senyumanmu?
Sedangkan aku ini bukan siapa,
Yang hanya insan lemah, penuh dengan keluh kesah.

Ya Rasulullah,
Walau aku tahu aku tidak layak, namun dengan bertatih aku tetap ingin menitipkan rindu ini untukmu.

Ya Rasulullah,
Walau aku tahu ini tidak mudah, namun dengan segala kelemahanku aku akan mengikuti jalan juangmu. Yang aku tahu memang penuh liku likunya.

Ya Rasulullah,
Walau aku tahu ini akan sulit, namun aku ingin turut menjadi pembela-pembela Allah dan Rasulku. Aku ingin menjadi seorang mujahidah di jalan ini, tidak gentar dan tidak lemah

Ya Rasulullah,
Saksikanlah aku yang akan tertatih untuk mempertahankan istiqamahku,
Demi cintaku pada Allah, demi cintaku padamu Ya Rasul.

Ya Rasulullah,
Aku teringin sekali berbicara denganmu tentang kisah-kisah perjuanganmu dalam menegakkan kalimah Allah.
Aku ingin berkongsi suka, duka, airmata dan luka yang dirimu alami sepanjang 23 tahun taklifatmu sebagai Rasul.
Tidak tegar aku melihat betapa susahnya kamu berjuang di medan dakwah ini. Tidak sanggup aku mendengar celaan kaum musyrikin menghina perjuanganmu Ya Rasulullah.
Pedih perasaanku mendengar dirimu luka dilempar batu semasa berdakwah di Taif. Aku ingin berbicara kisah yang aku tahu ini kepadamu.
Aku ingin melafaz rindu ini kepadamu. Bahawa aku sangat mencintaimu.

Ya Rasulullah,
Bumi Madinah ingin sekali lagi ku jejak. Ingin sekali ku rasai deruan angin di bumi bertuah itu. Tatkala dirimu dan para sahabat berjuang berhabis habisan, mempertahankan Islam tercinta. Ku ingin melewati medan syuhada dan perjuanganmu di sana.
Moga Allah memberi rezeki untuk itu dan perkenankan permintaanku.

Rindu kami padamu Ya Rasul,
Rindu tiada terperi,
Berabad jarak darimu ya Rasul, serasa dikau di sini.

Salam Bahagia Bagimu, Ya Rasullullah.

Dari insan kerdil yang begitu merinduimu

0 ulasan: